Minggu, 01 Januari 2012

Konser Kantata Barock





KONSER KANTATA BAROCK
Setiawan Djodi berseru, "Dua puluh satu tahun lalu, siapa yang di sini? Kita kangen kalian semua. Sekarang, kita resolusi sosial dan menghibur saudara-saudara sekalian." Ia lalu mengajak penonton menyanyikan lagu 'Padamu Negeri'. Stadion GBK terasa bergetar ketika ribuan penonton menyanyikan lagu itu dengan penuh semangat.
Konser sesungguhnya pun dimulai. Berikut adalah setlist lagu yang ditampilkan malam itu:
1. Nocturno2. Partai Bonek 3. Goro-goro 4. Balada Pengangguran 5. Kemarin dan Esok
6. Megalomania7. Badut8. Mata Dewa9. Tikus Ngongrong10. Panji-Panji Demokrasi
11. Beraksi12. Mukjizat13. Barong! Aku Bento14. Puing15. Proyek 13_16. Nyanyian Jiwa
17. Ombak18. Pangeran Brengsek19. Bongkar20. Nyanyian Preman21. Bento
22. Cinta23. Hio24. Kesaksian
Animasi lagu 'Partai Bonek'
Setiap lagu didukung oleh animasi menarik di LCD raksasa, yang membantu memperkuat pesan yang ingin disampaikan. Berbagai ilustrasi membahas tentang isu korupsi, sosial, politik, lingkungan hidup, perang dan terorisme. Baik Iwan Fals maupun Setiawan Djodi cukup aktif berinteraksi dengan penonton, menceritakan kisah dibalik sebuah lagu atau berorasi menyampaikan kritik mereka terhadap situasi negeri ini.
"Selamat malam, selamat datang di negeri para calo!" kata Iwan Fals, seusai menampilkan lagu 'Nocturno'. Wajah-wajah presiden RI, mulai dari Ir Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono, serta para pemimpin dunia yang terlibat konflik, menjadi latar belakang saat Iwan Fals menyanyikan lagu 'Partai Bonek'.
Di lagu 'Balada Pengangguran' tampak ilustrasi Gayus Tambunan memakai seragam astronot dan ada di gambar uang seribu rupiah, sehingga memancing tawa penonton. Iwan Fals juga mengkritik para diktator dunia dan pemimpin yang menyalahgunakan kekuasaan mereka lewat lagu 'Megalomania'. Terlihat gambar animasi Fidel Castro, George W. Bush, Khadafi, dan Saddam Hussein.Gayus dalam ilustrasi 'Balada Pengangguran'
 "Ini kisah hidup di negara calo, bangga lagi. Dasar badut," seru Iwan Fals sebelum menyanyikan lagu 'Badut' dengan latar belakang wayang di layar LCD. Tanpa dikomando, sebagian besar penonton lalu bersama-sama menyanyikan lagu 'Mata Dewa'.Para sesepuh Kantata Barock juga berkolaborasi dengan musisi yunior mereka. Bersama drummer Kotak yang sangat menonjol malam itu, mereka membawakan lagu 'Panji-Panji Demokrasi'. Lalu bersama Kotak dan Once menampilkan lagu Kotak, 'Beraksi'.
Sebelum menyanyikan lagu 'Mukjizat', Setiawan Djodi berkata, "Saya syukuran karena dapat kembali survive. Dokter pernah bilang kesempatan sembuh saya kecil, 20 persen saja enggak ada. Tetapi, saya diberi kesempatan hidup. Ini mukjizat, saya harus mengisi hidup dengan perbuatan baik.” Di layar tampak adegan operasi bedah, yang seolah menceritakan bagaimana dulu Djodi selamat dari penyakit lever yang dideritanya.
Mereka juga menampilkan versi baru lagu Bento, yakni 'Barong! Aku Bento'. Kemudian Iwan Fals bersama penonton satu stadion menyanyikan lagu 'Puing'. Suasana terasa bergetar, melihat beberapa adegan perang, rapat umum PBB, juga pidato JFK. Selain mengkritisi korupsi, pemerintahan diktator, dan perang, mereka juga membahas isu lingkungan hidup di lagu 'Proyek 13'. Layar menampilkan bahaya nuklir seperti yang terjadi di Chernobyl dan bagaimana sumber energi alternatif bisa didapat dari air, angin, dan matahari.
Ilustrasi George W. Bush untuk 'Megalomania'
Koor penonton kembali terulang di lagu 'Nyanyian Jiwa'. Setiawan Djodi pun mengenang, "Waktu saya di rumah sakit, antara ada dan tiada, saya minta anak saya menyetel lagu ini."
“Sebelum meninggal, WS Rendra bilang kita harus bikin Kantata lagi tapi namanya Kantata Samudra karena Indonesia banyak memiliki samudra. Dia berpesan kita harus jaga laut kita, karena 70 persen Indonesia isinya laut. Harusnya dengan banyak laut kan harga ikan enggak mahal-mahal. Harusnya kita makmur tapi kenapa nelayan kita miskin-miskin?,” ujar Iwan Fals yang kemudian menyanyikan lagu 'Ombak' secara solo, sambil bermain gitar dan meniup harmonika. Penonton pun spontan menyalakan korek api atau layar HP mereka, menambah syahdu suasana.
Di lagu-lagu hit seperti 'Bongkar', 'Bento', dan 'Hio', penonton ikut menyanyi dengan lantang. Di latar belakang lagu 'Hio' tampak ilustrasi kerusuhan Mei 1998 dan kasus pembunuhan Munir yang sampai sekarang belum tuntas. Rekaman video puisi Rendra, mengawali lagu terakhir berjudul 'Kesaksian'.Penonton koor menyanyikan lagu 'Bongkar'
Total 4 jam konser Kantata Barock berlangsung. Stamina para musisi veteran tersebut memang luar biasa. Iwan Fals, Sawung Jabo, dan Setiawan Djodi yang didukung oleh Dody "Elpamas" Katamsi sebagai backing vocal dan beberapa pemusik dari Sirkus Barock, menampilkan komposisi musik yang hidup dan kaya akan warna. Nyata-lah mengapa mereka layak menyandang gelar legenda musik Indonesia.

fals Tangsel.............

1 komentar: